About

About

About Jajanan Arek Suroboyo

Capek menjadi karyawan yang terkekang oleh jam kerja dan pendapatan bulanan, Siti Rahma (50 tahun), akhirnya memutuskan merintis usaha. Owner Jajanan Arek Suroboyo ini yakin menjadi diri sendiri lewat usaha yang digeluti bisa menjadi jalan sukses.

Mulai tahun 2015, Single Parent dua orang putri ini memutuskan untuk menjadi pelaku usaha, setelah sebelumnya ia malang melintang menjadi pegawai di beberapa rumah makan yang ada di Kota Surabaya.

“Saya sudah bertahun-tahun bekerja di beberapa rumah makan yang ada di Kota Surabaya. Di antaranya D’Mak Wok di jl. Tunjungan,” ujar dia saat di temui enciety.co, Senin (6/2/2017).

Menurut Rahmah, sebenarnya, dia mulai berniat untuk menjadi seorang pelaku usaha sejak tahun 2011. Saat itu, ia diajak oleh salah seorang teman untuk ikut pameran yang diadakan oleh Bappemas Kota Surabaya di Kaza City Mall.

“Sejak tahun 2012 sebenarnya saya mengetahui ada program pemberdayaan masyarakat yang digagas oleh Pemerintah Kota Surabaya bernama Pahlawan Ekonomi. Namun, saat itu saya masih bekerja menjadi seorang pegawai. Untuk menjadi pelaku usaha, mulai saat itu saya berniat untuk menabung untuk modal usaha,”ujar dia.

Dia mengaku, pada saat pameran, ia selalu mengingat apa yang dikatakan oleh Wali Kota Tri Rismaharini. “Saat itu Bu Risma berpesan, dengan menjadi pelaku usaha, seseorang bakal mampu meraih sukses dan tidak dibatasi oleh jam kerja dan gajih bulanan. Selain itu, ketika orang tersebut sukses, maka usahanya dapat diwariskan kepada anak-anaknya,” tutur Rahmah mengenang.

Kata Rahmah, sejak saat itu, jika ia memiliki kesempatan, dirinya selalu menyempatkan diri untuk datang dalam pelatihan Pahlawan Ekonomi di Kaza City Mall.

“Karena saya masih memiliki tanggung jawab pekerjaan di restoran, jika sedang libur pada hari minggu, saya bakal datang untuk ikut pelatihan. Hal tersebut saya lakukan karena saya sangat merasa sayang, mengingat sejak tahun 2011, saya telah mampu menciptakan satu produk tradisional, yakni berupa jajanan kembang goyang,” terangnya.

Rahmah menuturkan, nama unik jajanan kembang goyang berasal dari bentuknya yang menyerupai kelopak bunga atau kembang dan proses membuatnya digoyang-goyang hingga adonan terlepas dari cetakan. Kue kembang goyang Dibuat dari tepung beras.

Saat ini, dirinya mengaku mampu menciptakan empat varian rasa jajanan kembang goyang. Di antaranya keju, ketan hitam dan kacang hijau.

“Kebanyakan jajanan kembang goyang ini hadir pada saat perayaan-perayaan besar seperti hari raya lebaran dan lain sebagainya. Sehingga, pesanan yang saya terima kebanyakan meningkat pada saat bulan puasa,” kupas ibu dari Khalidah Khairina dan Raudina Rahmatina itu.

Dirinya menjelaskan, untuk saat ini, produk kembang goyang yang dia tawarkan laris manis di pasar dunia digital. “Hampir 60 persen pasar saya berasal dari dunia digital. Pesanan kebanyakan datang dari luar kota Surabaya, seperti di Banjarmasin, Balikpapan, Jakarta dan Banten. Setiap hari selalu saja ada yang pesan,” aku dia.

Terkait pemasaran, Rahmah mengaku, ia dibantu oleh anak pertamanya, Khalidah Khairina. “Saya sangat terbantu sekali dengan apa yang dilakukan oleh anak saya. Sejak lulus sekolah tahun 2014, dia membantu saya untuk memasarkan produk di blog, facebook, instagram yang ada di dunia digital. Alhamdulillah, sampai saat ini setiap bulan kami mendapatkan pemasukan untuk makan dan sebagai modal usaha,” terang dia, lantas tersenyum.

Ke depan, ia sangat berharap, selain dapat menyasar pasar luar daerah Surabaya lewat dunia digital, Rahmah saat ini mulai ingin menyasar pasar dalam Kota Surabaya dengan membuka gerai di Rumah yang saat ini juga menjadi bengkel produksinya di Jalan Medokan Semampir AWS gang II/26 Surabaya.

“Saya sangat ingin kedepan usaha yang saya rintis ini mampu saya wariskan kepada anak-anak saya,” pungkas dia. (ram)